Unbeatable Competition : Comparing with Others

Kompetisi olahraga identik dengan kata “bersaing”, artinya menjadi terbaik dari yang terbaik. Pada dasarnya hanya satu pencapaian yang didambakan yaitu kemenangan. Latihan beribu-ribu jam dengan mengerahkan tenaga, waktu, keringat, mental, dan pikiran memang semestinya terbayarkan. Memantapkan diri sudah menjadi modal utama. Pelatih mempersiapkan atlet, atlet mempersiapkan diri. Menunjukkan keunggulan-keunggulan merupakan segenap proses yang perlu dijalani.

Atmosfer kompetisi tidak terlepas dari head to head enemy, bagaimana caranya dapat mengalahkan. Melalui observasi performa memperlihatkan sejauh mana ukuran kemampuan untuk diadu siapa yang paling unggul. Dengan memperhatikan kemampuan lawan, maka ada attention effort terhadap kondisi lawan. Fatal apabila berlebihan membandingkan-bandingkan kekuatan.

Masalahnya ialah jika terus membandingkan, maka fokus kekuatan internal bisa jadi terabaikan. Akibatnya, meningkatkan performa diri kian tergusur karena berfokus pada mengetahui kekuatan lawan. Simon Sinek, penulis buku Start with Why dan The Infinite Game, mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan antara ‘pemain’ Finite Game dan ‘pemain’ Infinite Game. Finite Game fokus terhadap hal-hal yang orang/tim/organisasi yang dimiliki dan terus mencoba bersaing akan ketersediaan orang lain tersebut. Sedangkan Infinite Game adalah fokus meningkatkan kemampuan diri untuk selalu jadi lebih baik. Pemain Infinite Game memberikan citra bahwa kita harus melakukan terbaik bagi diri sendiri, tanpa terus membandingkan dengan yang lain. Because comparing with others never end.

Sebuah buku berjudul The Five Thieves of Happiness, karya John Izzo PhD, mengatakan bahwa ada lima pencuri kebahagiaan, salah satunya ialah iri hati. Iri hati meliputi comparing yourself with others. Secara tidak sadar ini mengganggu, karena ada stimulus mengiginkan sesuatu yang bahkan tidak bisa kita raih. Itu lah mengapa konsep GRATITUDE itu muncul, sebagai senjata apresiasi diri. Kehidupan bukanlah kontestasi, berkompetisi merupakan persaingan. Maksudnya control apa yang diperlukan untuk mengembangkan diri serta abaikan apa yang membuat hal tersebut menjadi kendala. Menganalisis kemampuan lawan memang lah strategi, namun apabila tenggelam dalam membandingkan diri dengan yang lain bisa menjadi boomerang. Maka perlu dibarengi dengan berlatih meningkatkan kemampuan diri.

The Coach Said, “Stop Worrying About the Other Players and Just Focus on Being The Best Player You Can Be.”

SPORT MUFTIVATION
#IAMENERGETIC



Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *