Teammates Problem : Instinct to Blame

source : Okayplayer.com

                Olahraga tim memang begitu kompleks. Chemistry tidak dibangun secara instan. Proses adalah segalanya. Walau diarsiteki oleh pelatih, tetap saja pemain menjadi aktor utama. Beribu jam berlatih bersama, demi meracik bumbu-bumbu kemenangan. Perlu diingat, masing-masing atlet mengantongi karakter & kepribadian sendiri. Tentu kecerdasan intelektual dan emosional berpengaruh terhadap kinerja tim. Kartu sakti keberhasilan tim diluar teknis bermain ialah membelakangi egosentris. Every team has one goal itself. But sometimes, the process mean too much. Maturity sounds like the floor general on every court we play. Kedewasaan menyikapi permainan, rekan tim, dan penonton ialah kostum yang sebenarnya.

            Namun, banyak dijumpai segudang permasalahan pada tim. Pertengkaran merupakan hal wajar dan akan terus terjadi. Mengapa saya mengatakan itu? Karena salah satu elemen team-building. Instropeksi kinerja sangat perlu, di luar maupun  di dalam permainan. Catatan bahwa pertengkaran itu atas dasar membangun dan mendukung keberhasilan tim. Sayangnya, masih ada saja pertengkaran yang menyalahkan. Bisa jadi ini merobohkan pondasi tim. Manusia secara alamiah memiliki naluri, termasuk menyalahkan. Pada buku Factfulness karya Hans Rosling, naluri menyalahkan adalah naluri untuk mencari alasan yang jelas dan sederhana tentang mengapa sesuatu yang buruk telah terjadi. Seringkali pada permainan tim ditemukan distraksi, not well-worked play, dan human error. Biasanya ada istilah turn over pada permainan. Hal ini memicu untuk menyalahkan, apalagi pemain yang melakukannya. Akibatnya, hal tersebut akan menghambat keberhasilan tim. Ini buruk !

            Ingat lah bahwa menyalahkan seseorang sering kali menghilangkan fokus dari penjelasan-penjelasan lain yang mungkin dan menghalangi kemampuan kita mencegah masalah-masalah serupa di masa mendatang. Supaya mengendalikan naluri untuk menyalahkan ini, berusahalah untuk tidak mencari kambing hitam. CATATLAH !

  • Cari penyebab, bukan penjahatnya. Terima lah bahwa hal-hal buruk terjadi tanpa memandang siapa yang berniat melakukannya. Ketika ada yang salah, jangan mencari seseorang untuk disalahkan. lebih baik gunakan energi Anda untuk memahami penyebabnya atau situasi yang terjadi.
  • Cari sistem, bukan pahlawan. Ketika seseorang mengaku telah kontribusi sesuatu yang baik, tanyalah apakah hasilnya terjadi kebetulan, bahkan semisal tidak ada campur tangan lain. Akui sistem turut berjasa.

Pernyataan di atas sangat berkaitan dengan kondisi tim. Diharapkan solusi tersebut membangun tim lebih hebat lagi. Terima lah permasalahan yang terjadi di tim, itu manusiawi. Poin kuncinya yaitu respon individu dalam menyikapinya. Gunakan naluri membangun pada sebuah tim. Bukankah aktor memperlihatkan acting terbaik dalam sebuah film? Begitu juga pemain.

Coach Phil Jackson mengatakan “The strength of the team is each individual member. The strength of each member is the team.”

Referensi : Factfulness, Hans Rosling. 2018

SPORT MUFTIVATION
#IAMENERGETIC

Leave a Comment

Your email address will not be published.