Berolahraga, Nikmat tapi Sehat ?

Terbesit dalam tanya di benak, memang bugar imbasnya apa? Tampaknya intropeksi diri terlebih dahulu apakah masih bisa merasakan tubuhnya atau tidak. Aset yang sangat berharga dalam hidup ialah tubuh kita sendiri. Berat hati jika ada seseorang yang ingin menjual anggota tubuhnya, missal tangan dihargai 500 Miliar rupiah. Misal lagi menjual jantungnya seharga 10 triliun rupiah. Saya rasa tak setinggi itu nyali seseorang. Itu lah pertanda bahwa tubuh kita ialah aset termewah dan tak tergantikan. Bila merasa sayang pada tubuh, maka sejauh mana upaya untuk merawat tubuh kita.

                Sebenarnya sehat bukan lah modal utama. Modal primer yang sungguh digenggam selalu yaitu pola pikir. Begitu mudah dimengerti betapa pola pikir menentukan nasib hidup seseorang. Fisiologi merupakan psikologis atau sebaliknya. Sehat bermula saat frequently questions  pada pikiran dipenuhi obrolan tentang sehat itu sendiri, seperti langkah, upaya, aksi nyata, rencana, larangan, pemulihan, dan masih banyak lagi. Dengan memikirkan hal itu, tindakan yang terproyeksikan menjadi nasib jelas koheren. Berperilaku hidup sehat itu kompleks, bisa berwujud berolahraga, pola makan teratur, makanan bergizi, menghindari penyakit, dan seterusnya.

                Jikalau berolahraga merupakan rahasia umum berperilaku hidup sehat, mengapa masih saja orang-orang enggan toleran terhadap hal tersebut. Artinya secara sadar menganggap bahwa olah raga itu penting namun dalam melakukannya masih tersandung-sandung. Mengapa masih saja orang menggebu-gebu meluapkan keinginannya untuk berolahraga tapi tetap nihil aksinya. Gambaran lain deh, mengapa rokok dalam bungkusnya dinarasikan berbahaya tetapi tetap saja ramai digandrungi. Kembali lagi bagaimana otak merumuskan jawabannya, diselimuti pikiran dan emosi manusia.

                Kenikmatan dan kesakitan (rasa sakit) tergambarkan secara umum. Dua hal fundamental dalam afirmasi otak ialah menanggapi sesuatu yang dirasa nyaman akan dilanjut, rasa sakit ditinggalkan. Pada dasarnya manusia ingin hidup nikmat nan nyaman terlepas itu baik atau buruknya. Begitu juga dengan rasa sakit, terlepas hal itu bermanfaat atau tidak, selama otak mencerna (berasumsi) kalau suatu hal kesakitan, maka ditinggalkan. Sinonim sepertinya pernyataan sebelumnya, terjawab lah korelasi kecanduan rokok maupun malasnya berolahraga. Aktor utama kenikmatan dan kesakitan sedang memainkan peranannya.

                Patut disadari bahwasannya memiliki fisik bugar dan badan sehat sebagai sebuah kenikmatan yang tak tertandingi. Ibarat gedung pencakar langit, pondasi menyokong Gedung supaya kokoh dan tahan lama. Mirip-mirip seperti itu lah sehat bagi tubuh. Prasyarat produktifitas seseorang salah satunya sehat. men sana in corpore sano. Berolahraga sebagai kiat-kiat unggulan menuju hidup sehat seharusnya tertanam kenikmatan yang hakiki. Lagipula manfaat yang jelas juga relevan untuk dilakukan. Sebegitu rumit kah pola pikir yang hinggap di otak. Hebatnya lagi bonusnya tegas, berolahraga nikmat plus sehat.

SPORT MUFTIVATION
I AM ENERGETIC

Leave a Comment

Your email address will not be published.